Di Bumi Pertiwi nan subur, tumbuh beragam tumbuhan, termasuk sumber fitoestrogen yang sangat bermanfaat untuk wanita menopause.
Terhitung sejak akhir Februari 2007, Internasional Menopause Society (IMS) telah merekomendasikan penggunaan terapi sulih hormon untuk penanganan gejala pada masa dan setelah menopause, namun dengan syarat tertentu dan indikasi yang jelas (Baca: Simposium PERMI, plus minus terapi hormon). Meski demikian, untuk Indonesia sendiri faktor ekonomi masih menjadi pertimbangan khusus. Selain masih banyak wanita Tanah Air yang tidak tahu tentang terapi ini (35%), rerata mereka juga tidak sanggup menjalani terapi ini karena harganya yang lumayan mahal. Di Jakarta saja mungkin hanya 10-15 yang sanggup membeli obat hormonal ini. Oleh karena itu, perlu suatu upaya alternatif yang mudah dijalani serta biayanya murah. Nah, keberadaan fitoestrogen yang berlimpah di Bumi Pertiwi ini mungkin bisa sedikit membantu, meski tak bisa menggantikan terapi sulih hormon.
Fitoestrogen merupakan suatu substrat dari tumbuhan yang memiliki khasiat mirip estrogen, meskipun rumus bangun kimianya sangat berbeda dengan estrogen. Khasiat estrogenik ini timbul karena fitoestrogen juga memiliki 2 gugus -OH/hidroksil yang berjarak 11.0 —11,5 A0 pada intinya, sama persis dengan inti estrogen sendiri. Para peneliti sepakat bahwa jarak 11 A0 dan gugus -OH inilah yang menjadi struktur pokok suatu substrat agar mempunyai efek estrogenik, yakni memiliki afinitas tertentu untuk dapat "menduduki" reseptor estrogen. Substrat tadi baru akan berefek estrogenik bila telah berikatan dengan reseptor estrogen tersebut.
Pada tanaman dikenal ada beberapa kelompok fitoestrogen yakni; isoflavon, lignan, kumestan, triterpen glikosida, dan senyawa lain yang berefek estrogenik, seperti flavones, chalconcs, diterpenoids, triterpenoids, coumarins, dan acyclics. Isoflavon banyak dijumpai pada buah-buahan, teh hijau, kacang kedelai, dan produk-produk kedelai lainnya seperti tempe, tahu, dan tauco (soy products). Lignan lebih banyak dijumpai pada biji-bijian gandum maupun wijen. Sementara kumestan banyak terdapat pada kacang-kacangan, biji bunga matahari. Sedangkan triterpen glikosida banyak terkandung pada tanaman Cimifuga racemosa (sering disebut sebagai tanaman black cohosh). Tanaman ini tumbuh di hutan-hutan Amerika Selatan dan sekarang telah diekstraksi serta dikemas menjadi produk obat untuk menopause.
Di antara kelompok fitoesterogen tersebut, penelitian menunjukkan isoflavon adalah yang terbaik. Sebagai fitoestrogen, isoflavon kedelai memiliki dua efek penting. Pertama, saat kadar estrogen tinggi, fitoestrogen bisa menghentikan bentuk estrogen yang lebih poten diproduksi oleh tubuh dan bisa membantu mencegah penyakit yang diikendarai oleh hormon, seperti kanker payudara. Kedua, saat kadar estrogen rendah, seperti pada keadaan setelah menopause, fitoestrogen bisa menggantikan estrogen tubuh itu sendiri, sehingga bisa mengurangi hot flashes dan melindungi tulang.
Data penelitian menunjukkan, tingginya konsumsi produk kedelai sangatlah bermanfaat dalam mencegah pelbagai penyakit kardiovaskular (yakni dengan mempertahankan kolesterol pada kadar yang normal), mencegah kanker payudara dan prostat, mencegah osteoporosis, dan mengurangi berbagai gejala serta keluhan menopause. Konsumsi makanan yang banyak mengandung fitoestrogen sejak masa kanak-kanak akan mencegah sindroma perimenopause di kemudian hari. Wanita Jepang, Indonesia, dan Mayan (Meksiko) yang mempunyai kebiasaan makan makanan yang mengandung fitoestrogen ternyata prevalensi hot flashes lebih rendah dari pada wanita Amerika.
Daidzein
Daidzein merupakan salah satu dari beberapa isoflavon yang dikenal cukup potensial. Pada prinsipnya, daidzein adalah aglikon (aglucon) dari daidzin. Umumnya, isoflavon ditemukan secara alamiah sebagai glikosida daidzin dan glikosida 6"-O-malonylgenistin serta 6"-O-acetyldaidzin. Glikosida daidzein merupakan isoflavon kedua terbanyak yang ditemukan pada kacang kedelai dan produk kedelai, setelah genistein. Makanan olahan kedelai yang tidak difermentasi, seperti tofu, mengandung daidzein dalam bentuk glikosidanya. Sedangkan yang telah difermentasi seperti tempe, mengandung kadar aglikon dalam jumlah yang signifikan.
Pengujian secara in vivo dan in vitro memperlihatkan, daidzein memiliki efek estrogenik meski lemah. Selain itu senyawa ini juga tampak memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antidipsotropik, antikarsinogenik, anti-aterogenik, dan anti-osteoporotik.
Farmakokinetik daidzein pada manusia sangatlah kompleks dan hingga kini belum dimengerti dengan baik. Namun data farmakokinetik daidzein dan daidzin yang diperoleh dari hewan percobaan, bias dibuat beberapa kesimpulan. Asupan oral daidzein aglikon diserap dari usus kecil, kemudian diangkut menuju sirkulasi sistemik oleh limfatik. Daidzein selanjutnya didistribusikan ke hati dan mengalami konyugasi terutama dengan glukoronat dan sulfat melalui enzim hepatic fase II (UDP-glucuronosyltransferase dan sulfotransferase). Bentuk konyugasi daidzein glucuronate dan sulfat dieksresikan dalam urin dan empedu. Bentuk konyugasi dari daidzein ini bisa mengalami dekonyugasi dan melepaskan daidzein, sehingga memungkinkan penyerapan kembali melalui sirkulasi enterohepatik.
Sementara untuk daidzin, sebagian besar dari yang dimakan akan mencapai usus besar dalam keadaan utuh. Di dalam usus besar, bacterial beta-glucosidases akan menghidrolisa daidzin menjadi daidzein. Selanjutnya daidzein diserap dan mengalami proses seperti yang dijelaskan diatas. Selain itu daidzin juga bisa mengalami metabolisme lebih lanjut di usus besar menjadi dihydrodaidzein yang kemudian dimetabolisme menjadi eQuol atau O-desmethylangolensin.
Daidzein kontraindikasi untuk mereka yang hipersensitif dengan komponen produk yang berisi daidzin atau daidzein. Wanita hamil dan ibu menyusui sebaiknya menghindari suplemen yang mengandung senyawa ini. Laki-laki dengan kanker prostat juga harus berdiskusi dengan dokter mereka terlebih dulu sebelum memutuskan menggunakan suplemen berisi daidzein/daidzin. Wanita dengan estrogen receptor-positive tumor juga harus berhati-hati dan hanya menggunakan suplemen berisi daidzein/daidzin bila direkomendasi dan dimonitor oleh dokter. Pada beberapa kasus, asupan daidzein/daidzin terkait dengan hypothyroidism pada beberapa kasus. Daidzein/daidzin dapat meningkatkan bioavailabilitas dari etanol.
Dalam penggunaannya, daidzein tersedia dalam beberapa formula isoflavon berbeda. Namun formula standar isoflavon kedelai biasanya terdiri dari daidzein yang pada prinsipnya dalam bentuk daidzein, genistin dan glycitin. Persentase isoflavon kedelai yang ada dalam suplemen merefleksikan persentase senyawa tersebut dalam kedelai: daidzin 38%; genistin 50%; dan glycitin 12%.
(Arnita)
Terhitung sejak akhir Februari 2007, Internasional Menopause Society (IMS) telah merekomendasikan penggunaan terapi sulih hormon untuk penanganan gejala pada masa dan setelah menopause, namun dengan syarat tertentu dan indikasi yang jelas (Baca: Simposium PERMI, plus minus terapi hormon). Meski demikian, untuk Indonesia sendiri faktor ekonomi masih menjadi pertimbangan khusus. Selain masih banyak wanita Tanah Air yang tidak tahu tentang terapi ini (35%), rerata mereka juga tidak sanggup menjalani terapi ini karena harganya yang lumayan mahal. Di Jakarta saja mungkin hanya 10-15 yang sanggup membeli obat hormonal ini. Oleh karena itu, perlu suatu upaya alternatif yang mudah dijalani serta biayanya murah. Nah, keberadaan fitoestrogen yang berlimpah di Bumi Pertiwi ini mungkin bisa sedikit membantu, meski tak bisa menggantikan terapi sulih hormon.
Fitoestrogen merupakan suatu substrat dari tumbuhan yang memiliki khasiat mirip estrogen, meskipun rumus bangun kimianya sangat berbeda dengan estrogen. Khasiat estrogenik ini timbul karena fitoestrogen juga memiliki 2 gugus -OH/hidroksil yang berjarak 11.0 —11,5 A0 pada intinya, sama persis dengan inti estrogen sendiri. Para peneliti sepakat bahwa jarak 11 A0 dan gugus -OH inilah yang menjadi struktur pokok suatu substrat agar mempunyai efek estrogenik, yakni memiliki afinitas tertentu untuk dapat "menduduki" reseptor estrogen. Substrat tadi baru akan berefek estrogenik bila telah berikatan dengan reseptor estrogen tersebut.
Pada tanaman dikenal ada beberapa kelompok fitoestrogen yakni; isoflavon, lignan, kumestan, triterpen glikosida, dan senyawa lain yang berefek estrogenik, seperti flavones, chalconcs, diterpenoids, triterpenoids, coumarins, dan acyclics. Isoflavon banyak dijumpai pada buah-buahan, teh hijau, kacang kedelai, dan produk-produk kedelai lainnya seperti tempe, tahu, dan tauco (soy products). Lignan lebih banyak dijumpai pada biji-bijian gandum maupun wijen. Sementara kumestan banyak terdapat pada kacang-kacangan, biji bunga matahari. Sedangkan triterpen glikosida banyak terkandung pada tanaman Cimifuga racemosa (sering disebut sebagai tanaman black cohosh). Tanaman ini tumbuh di hutan-hutan Amerika Selatan dan sekarang telah diekstraksi serta dikemas menjadi produk obat untuk menopause.
Di antara kelompok fitoesterogen tersebut, penelitian menunjukkan isoflavon adalah yang terbaik. Sebagai fitoestrogen, isoflavon kedelai memiliki dua efek penting. Pertama, saat kadar estrogen tinggi, fitoestrogen bisa menghentikan bentuk estrogen yang lebih poten diproduksi oleh tubuh dan bisa membantu mencegah penyakit yang diikendarai oleh hormon, seperti kanker payudara. Kedua, saat kadar estrogen rendah, seperti pada keadaan setelah menopause, fitoestrogen bisa menggantikan estrogen tubuh itu sendiri, sehingga bisa mengurangi hot flashes dan melindungi tulang.
Data penelitian menunjukkan, tingginya konsumsi produk kedelai sangatlah bermanfaat dalam mencegah pelbagai penyakit kardiovaskular (yakni dengan mempertahankan kolesterol pada kadar yang normal), mencegah kanker payudara dan prostat, mencegah osteoporosis, dan mengurangi berbagai gejala serta keluhan menopause. Konsumsi makanan yang banyak mengandung fitoestrogen sejak masa kanak-kanak akan mencegah sindroma perimenopause di kemudian hari. Wanita Jepang, Indonesia, dan Mayan (Meksiko) yang mempunyai kebiasaan makan makanan yang mengandung fitoestrogen ternyata prevalensi hot flashes lebih rendah dari pada wanita Amerika.
Daidzein
Daidzein merupakan salah satu dari beberapa isoflavon yang dikenal cukup potensial. Pada prinsipnya, daidzein adalah aglikon (aglucon) dari daidzin. Umumnya, isoflavon ditemukan secara alamiah sebagai glikosida daidzin dan glikosida 6"-O-malonylgenistin serta 6"-O-acetyldaidzin. Glikosida daidzein merupakan isoflavon kedua terbanyak yang ditemukan pada kacang kedelai dan produk kedelai, setelah genistein. Makanan olahan kedelai yang tidak difermentasi, seperti tofu, mengandung daidzein dalam bentuk glikosidanya. Sedangkan yang telah difermentasi seperti tempe, mengandung kadar aglikon dalam jumlah yang signifikan.
Pengujian secara in vivo dan in vitro memperlihatkan, daidzein memiliki efek estrogenik meski lemah. Selain itu senyawa ini juga tampak memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antidipsotropik, antikarsinogenik, anti-aterogenik, dan anti-osteoporotik.
Farmakokinetik daidzein pada manusia sangatlah kompleks dan hingga kini belum dimengerti dengan baik. Namun data farmakokinetik daidzein dan daidzin yang diperoleh dari hewan percobaan, bias dibuat beberapa kesimpulan. Asupan oral daidzein aglikon diserap dari usus kecil, kemudian diangkut menuju sirkulasi sistemik oleh limfatik. Daidzein selanjutnya didistribusikan ke hati dan mengalami konyugasi terutama dengan glukoronat dan sulfat melalui enzim hepatic fase II (UDP-glucuronosyltransferase dan sulfotransferase). Bentuk konyugasi daidzein glucuronate dan sulfat dieksresikan dalam urin dan empedu. Bentuk konyugasi dari daidzein ini bisa mengalami dekonyugasi dan melepaskan daidzein, sehingga memungkinkan penyerapan kembali melalui sirkulasi enterohepatik.
Sementara untuk daidzin, sebagian besar dari yang dimakan akan mencapai usus besar dalam keadaan utuh. Di dalam usus besar, bacterial beta-glucosidases akan menghidrolisa daidzin menjadi daidzein. Selanjutnya daidzein diserap dan mengalami proses seperti yang dijelaskan diatas. Selain itu daidzin juga bisa mengalami metabolisme lebih lanjut di usus besar menjadi dihydrodaidzein yang kemudian dimetabolisme menjadi eQuol atau O-desmethylangolensin.
Daidzein kontraindikasi untuk mereka yang hipersensitif dengan komponen produk yang berisi daidzin atau daidzein. Wanita hamil dan ibu menyusui sebaiknya menghindari suplemen yang mengandung senyawa ini. Laki-laki dengan kanker prostat juga harus berdiskusi dengan dokter mereka terlebih dulu sebelum memutuskan menggunakan suplemen berisi daidzein/daidzin. Wanita dengan estrogen receptor-positive tumor juga harus berhati-hati dan hanya menggunakan suplemen berisi daidzein/daidzin bila direkomendasi dan dimonitor oleh dokter. Pada beberapa kasus, asupan daidzein/daidzin terkait dengan hypothyroidism pada beberapa kasus. Daidzein/daidzin dapat meningkatkan bioavailabilitas dari etanol.
Dalam penggunaannya, daidzein tersedia dalam beberapa formula isoflavon berbeda. Namun formula standar isoflavon kedelai biasanya terdiri dari daidzein yang pada prinsipnya dalam bentuk daidzein, genistin dan glycitin. Persentase isoflavon kedelai yang ada dalam suplemen merefleksikan persentase senyawa tersebut dalam kedelai: daidzin 38%; genistin 50%; dan glycitin 12%.
(Arnita)

0 komentar:
Posting Komentar